Lewat ke baris perkakas
Potensi Tsunami Pulau Jawa

Tim Riset Institut Teknologi Bandung (ITB) menyampaikan peringatan akan kemungkinannya terjadi potensi tsunami untuk Pulau Jawa. Tsunami itu kami perkirakan bisa terjadi sepanjang pantai selatan, Jawa Barat & Jawa Timur.

Peneliti ITB Sri Widiyantoro menjelaskan tinggi tsunami dapat mencapai 20 meter pada pantai selatan Jawa Barat dan 12 meter pada pantai selatan Jawa Timur. Dengan tinggi maksimum rata-rata 4,5 meter sepanjang pantai selatan Jawa jika terjadi secara bersamaan. Menurut Sri, riset tersebut berdasarkan hasil pengolahan data gempa yang tercatat oleh stasiun pengamat BMKG dan data GPS.

Hasil yang ITB sampaikan ini memberikan alasan ilmiah yang kuat untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Kita harus siap dalam menghadapi bencana gempa dan tsunami dari Samudera Hindia Selatan Jawa.

Hasil riset Widiyantoro mengungkap adanya wilayah minim gempa atau seismic gap yang ada dalam laut selatan Jawa. Seismic gap adalah bagian dari sesar yang pernah menghasilkan gempa bumi pada masa lalu. Seismic gap ini berpotensi melepaskan gempa dengan magnitudo lebih besar ketika kembali aktif.

Dalam beberapa ratus tahun terakhir tidak ada gempa besar dengan magnitudo 8 atau lebih. Mengindikasikan ancaman gempa tsunamigenik dahsyat sepanjang pantai selatan Pulau Jawa.

Sebelumnya, Guru Besar bidang Seismologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Sri Widiyantoro mengungkapkan hasil riset soal potensi tsunami. Dari riset itu yang kami dapat bisa mencapai 20 meter pada pantai selatan Jawa Barat dan 12 meter pada pantai selatan Jawa Timur.

Gempa 8 Magnitudo Akan Memicu Potensi Tsunami Pulau Jawa

Dalam beberapa ratus tahun terakhir, tidak ada gempa yang bermagnitudo 8 atau lebih. Itu mengindikasikan ancaman gempa tsunamigenik dahsyat sepanjang pantai selatan Pulau Jawa, kita perlu waspada.

Data gempa dari katalog BMKG dan katalog ISC April 2009 sampai hingga November 2018. Data ini yang kami gunakan dan dari situ timnya menemukan dalam studi terbaru.

Pantai selatan Pulau Jawa dan Palung Jawa yang memiliki sedikit catatan aktivitas gempa. Hasil pengolahan data gempa itu menunjukkan adanya zona memanjang antara pantai selatan jabar dan jatim. Seismic gap teridentifikasi dari hasil pengolahan data gempa itu.

Tim juga memanfaatkan data GPS dari 37 stasiun yang terpasang pada wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Data yang kami olah dari GPS itu selama enam tahun terakhir untuk mempelajari sumber gempa yang akan terjadi pada masa mendatang.

Hasil pengolahan data dengan teknik inversi data GPS ini juga berfungsi sebagai model simulasi numerik tinggi tsunami sepanjang pantai selatan Pulau Jawa jika terjadi gempa besar.

Ia menegaskan hasil riset ini bukan menunjukkan kapan terjadinya megathrust, tetapi untuk menunjukkan kesiapsiagaan. Intinya hasil riset ini lebih untuk kesiapsiagaan bukan untuk prediksi. Kalau kapan gempa akan terjadi itu para ahli belum bisa memprediksinya.

Predisen Jokowi Minta BMKG Edukasi Potensi Tsunami

Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta BMKG memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan bencana. Jokowi juga meminta BMKG bicara apa adanya terkait potensi gempa dan megathrust untuk wilayah Indonesia.

Jokowi mengatakan penyampaian yang apa adanya bukan bermaksud untuk meresahkan warga. Menurutnya, penyampaian ke masyarakat harus terbuka dari BMKG terkait potensi gempa dan megathrust untuk mengedukasi masyarakat agar lebih waspada.

Itu edukasi, memberikan pelajaran kepada masyarakat. Lama-lama kita akan terbiasa. Sama seperti negara Jepang yang kita lihat, kalau ada gempa, sirene nggak bunyi, tenang-tenang saja. Tapi begitu sirene bunyi, larinya ke mana, arahnya ke mana, sudah jelas semuanya, tutur Jokowi.

Baca juga: Pabrik Aqua Sukabumi Kini Sudah Mulai Beroperasi

Comments

comments

By LMH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *