Lewat ke baris perkakas
Smartphone Huawei Tak Menarik

Pada pertengahan tahun ini, smartphone Huawei sempat mengalahkan Samsung, namun ponsel tersebut tak menarik lagi dalam pasaran.

Bahkan, ada kabar yang kurang sebab Huawei akan menyusul nasib Nokia, sang mantan raja ponsel yang kalah bersaing dengan para pemain lain.

Pertengahan tahun 2019 lalu, pemerintah AS dalam masa Donald Trump memasukan Huawei ke daftar hitam entity list.

Masuknya Huawei ke dalam daftar hitam Amerika Serikat membuat ponsel anyar buatannya bisa jadi tak bakal kebagian Android dari Google ke depannya. Ini tentu jadi kerugian besar bagi vendor smartphone tersebut, dan tanda-tanda turunnya minat orang terhadap perangkat buatannya sudah mulai terlihat.

PriceSpy, situs pembanding produk dengan rataan pengunjung 14 juta orang per bulan. Mengatakan bahwa perangkat Huawei mencatatkan jumlah klik yang lebih kecil setelah ter-blacklist oleh pemerintah Paman Sam. PriceSpy sendiri penggunanya dari berbagai negara seperi Finlandia, Irlandia, Perancis, Italia, Selandia Baru, Norwegia, Swedia, dan Britania Raya.

Smartphone Huawei Tak Lagi Produksi Chip Kirin

Kemudian, mulai 15 September nanti, Huawei juga akan menghentikan produksi chip Kirin yang mereka gunakan untuk smartphone buatannya. Ini juga penyebabnya tak lain adalah adanya tekanan dari pemerintah AS.

Situasi yang sedang Huawei hadapi memang berbeda dengan Nokia. Nokia, merek legendaris yang pada zaman keemasannya seakan tak tertandingi, akhirnya tumbang karena kurang gesit mengantisipasi Android yang mulai muncul tahun 2010.

Vanessa melanjutkan, perangkat Huawei mencatatkan penurunan jumlah klik sebesar hampir 50% pekan lalu. Sedangkan secara global, penurunannya mencapai 26%.

Ada laporan yang menyebutkan bahwa Huawei hanya berencana memproduksi 50 juta unit smartphone pada 2021.

Huawei mengkonfirmasi angka tersebut kepada para sub-kontraktor Korea.

Berbeda jauh saat tahun 2019, pada tahun itu Huawei menjual sekitar 240 juta smartphone. Pada 2020 angka penjualan smartphone Huawei mengalami penurunan, yakni hanya sekitar 190 juta unit.

Penyebab penurunan jumlah produksi itu tak lain adalah imbas dari konflik politik bilateral antara Amerika Serikat dan Cina.

Apabila Huawei gulung tikar, yang bakal paling untung adalah Samsung dan Apple. Selaku dua pesaing terbesarnya dalam industri smartphone oleh Huawei untuk wilayah Eropa. Mungkin pasaran melihat smartphone Huawei tak menarik karena tidak bisa menggunakan layanan google.

Cina merupakan pasar domestik Huawei, mereka sedikit tertolong karena ada Xiaomi. Dimana Xiami ini salah satu smartphone yang bisa mengambil market share untuk segmen bawah dan menengah.

Baca juga: PSBB Total Lebih Panjang Agar Menekan Kasus Covid-19 DKI Jakarta

Comments

comments

By LMH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *